Mutiara Kata:

"Dan tuntutlah dengan harta kekayaan yang telah dikurniakan Allah kepadamu akan pahala dan kebahagiaan hari akhirat dan janganlah engkau melupakan bahagianmu dari dunia dan berbuat baiklah sebagaimana Allah berbuat baik kepadamu dan janganlah engkau melakukan kerosakan di muka bumi sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang berbuat kerosakan." (QS Al-Qasas: 77)


19 Ogos 2009

RIWAYAT HIDUP SAIDINA HUSEIN A.S.


Sabda Rasulullah SAW: "Wahai puteraku al-Husein, dagingmu adalah dagingku, dan darahmu adalah darahku, engkau adalah seorang pemimpin putera seorang pemimpin dan saudara dari seorang pemimpin, engkau adalah seorang pemimpin spiritual, putera seorang pemimpin spiritual dan saudara dari pemimpin spiritual. Engkau adalah Imam yang berasal dari Rasul, putera Imam yang berasal dari Rasul dan Saudara dari Imam yang berasal dari Rasul, engkau adalah ayah dari semua Imam".
.
Di tengah kebahagiaan dan kerukunan keluarga Fatimah Az-Zahra r.a. lahirlah seorang bayi yang akan memperjuangkan kelanjutan misi Rasulullah SAW. Bayi itu tidak lain adalah Saidina Husein bin Ali bin Abi Thalib r.a., yang dilahirkan pada suatu malam di bulan Syaa'ban.
.
Rasulullah SAW bertanya pada Imam Ali bin Abi Thalib k.w.j.: "Engkau berikan namanya apa kepada anakku ini?" "Saya tidak berani mendahuluimu, wahai Rasulullah," jawab Ali. Akhirnya Rasulullah SAW mendapat wahyu agar menamainya 'Husein'. Kemudian di hari ketujuh, Rasulullah SAW bergegas ke rumah Fatimah Az-Zahra dan menyembelih domba sebagai aqiqahnya. Lalu dicukurnya rambut Husein dan Rasulullah SAW bersedekah dengan perak seberat rambutnya yang kemudian mengkhatannya sebagaimana upacara yang dilakukan untuk Saidina Hasan bin Ali bin Abi Thalib r.a.
.
Sebagaimana Saidina Hasan, Saidina Husein juga mendapat didikan langsung dari Rasulullah SAW. Dan setelah Rasulullah wafat, beliau dididik oleh ayahnya. Hingga akhirnya Saidina Ali terbunuh dan Saidina Hasan yang menjadi pemimpin ketika itu. Namun Saidina Hasan pun syahid dalam mempertahankan Islam dan kini Saidina Husein yang menjadi Imam atas perintah Allah dan RasulNya serta wasiat dari saudaranya. Saidina Husein hidup dalam kedudukan yang paling sulit. Itu semua merupakan akibat adanya penekanan dan penganiayaan serta banyaknya kejahatan dan kedurjanaan yang dilakukan Muawiyah. Bahkan yang lebih teruk lagi, Muawiyah menyerahkan kekhalifahan kaum muslimin kepada anaknya Yazid laknatullah, yang terkenal sebagai pemabuk, penzina, yang tidak pernah mendapat pendidikan Islam, serta seorang pemimpin yang setiap harinya hanya bermain dan berteman dengan kera-kera kesayangannya.
.
Hukum-hukum Allah tidak dijalankan, sunnah-sunnah Rasulullah SAW ditinggalkan dan Islam yang tersebar bukan lagi Islamnya Muhammad SAW, melainkan Islamnya Muawiyah serta Yazid yang lebih dikenali dengan kerosakan dan kedurjanaan. Saidina Husein merupakan tokoh yang paling ditakuti oleh Yazid. Hampir setiap kerosakan yang dilakukannya ditentang oleh Saidina Husein dan beliau merupakan seorang tokoh yang menolak untuk berbaiat kepadanya. Kemudian Yazid segera menulis surat kepada gabenornya al-Walid bin Utbah, dan memerintahkannya agar meminta baiat dari penduduk Madinah secara umum dan dari Saidina Husein secara khusus dengan apa cara sekalipun.
.
Melihat itu semua, akhirnya Saidina Husein meninggalkan Madinah. Namun sebelum meninggalkan Madinah, beliau terlebih dahulu berjalan menuju maqam datuknya Rasulullah SAW, serta solat di situ dan berdoa: "Ya Allah ini adalah kubur nabi-Mu dan aku adalah anak dari puteri nabi-Mu ini. Kini telah datang kepadaku persoalan yang sudah aku ketahui sebelumnya. Ya Allah! Sesungguhnya aku menyukai yang maaruf dan mengingkari yang mungkar, dan aku memohon kepada-Mu, wahai Tuhan yang Maha Agung dan Maha Mulia, melalui haq orang yang ada dalam maqam ini, agar jangan Engkau pilihkan sesuatu untukku, kecuali yang Engkau dan Rasul-Mu meridhainya". Setelah menyerahkan segala urusannya kepada Allah, beliau segera mengumpulkan seluruh Ahlul-Bait dan pengikut-pengikutnya yang setia, lalu menjelaskan tujuan perjalanan beliau, yakni ke Mekah.
.
Mungkin kita bertanya-tanya, apa sebenarnya motivasi gerakan revolusi yang dilakukan Saidina Husein hingga beliau harus keluar dari Madinah. Saidina Husein sendiri yang menjelaskan alasannya kepada Muhammad bin Hanafiah dalam surat yang ditulisnya: "Sesungguhnya aku melakukan perlawanan bukan dengan maksud berbuat jahat, sewenang-wenang, melakukan kerosakan atau kezaliman. Tetapi semuanya ini aku lakukan semata-mata demi kemaslahatan umat datukku, Muhammad SAW. Aku bermaksud melaksanakan amar maa’ruf nahi mungkar, dan mengikuti jalan yang telah dirintis oleh datukku dan juga ayahku, Ali bin Abi Thalib. Ketahuilah barangsiapa yang menerimaku dengan haq, maka Allah lebih berhak atas yang haq. Dan barang siapa yang menentang apa yang telah kuputuskan ini, maka aku akan tetap bersabar hingga Allah memutuskan antara aku dengan mereka tentang yang haq dan Dia adalah sebaik-baik pemberi keputusan."
.
Setelah melakukan perjalanan yang jauh, akhirnya rombongan Saidina Husein tiba di kota Mekah, yaitu suatu kota yang dilindungi Allah SWT yang dalam Islam merupakan tempat yang di dalamnya perlindungan dan keamanan dijamin. Peristiwa ini terjadi di akhir bulan Rejab 60 Hijrah.
.
Selama empat bulan di Mekah, Saidina Husein banyak berdakwah dan membangkitkan semangat Islam dari penduduk Mekah. Dan ketika tiba musim haji, beliau segera melaksanakan ibadah haji dan berkhutbah di depan khalayak ramai dengan khutbah singkat yang mengatakan bahawa beliau akan ke lraq menuju kota Kufah.
.
Selain kerana keselamatan Saidina Husein sudah terancam, ribuan surat yang datangnya dari penduduk kota Kufah juga menjadi pendorong keberangkatan Saidina Husein ke kota itu. Dan sehari setelah khutbahnya itu, Saidina Husein berangkat bersama keluarga dan para pengikutnya yang setia, memenuhi panggilan tersebut.
.
Ketika dalam perjalanan, ternyata keadaan kota Kufah telah berubah. Yazid mengirimkan lbnu Ziyad bagi menyiasat keadaan. Wakil Saidina Husein (Muslim bin Aqil), diseret dan dipenggal kepalanya. Orang-orang yang setia kepada Saidina Husein segera dibunuhnya. Penduduk Kufah pun berubah menjadi ketakutan, laksana tikus yang melihat kucing.
.
Sekitar tujuh puluh kilometer dari Kufah di suatu tempat yang bernama 'Karbala', Saidina Husein beserta rombongan yang berjumlah 70 (tujuh puluh) orang; 40 (empat puluh) laki-laki dan selebihnya kaum wanita; dan itu pun terdiri dari keluarga Bani Hasyim, baik anak-anak, saudara, sepupu dan saudara sepupu, telah dikepung oleh pasukan bersenjata lengkap yang berjumlah 30 (tiga puluh) ribu orang.
.
Musuh yang tidak berperikemanusiaan itu melarang Saidina Husein dan rombongannya untuk meminum dari sungai Eufrat. Padahal, anjing, babi dan binatang lainnya dibenarkan berendam di sungai itu sepuas-puasnya, sementara keluarga suci Rasulullah SAW dilarang mengambil air walaupun seteguk.
.
Penderitaan demi penderitaan, jeritan demi jeritan, pekikan suci dari anak-anak yang tak berdosa menambah sedihnya peristiwa itu. Saidina Husein yang digambarkan oleh Rasul sebagai pemuda penghulu syurga, yang digambarkan sebagai Imam di saat duduk dan berdiri, harus menerima perbuatan keji dari manusia yang tidak mengenang budi.
.
Pada tanggal 10 (sepuluh) Muharram 61 Hijrah (680 Masehi), pasukan Saidina Husein yang berjumlah 70 (tujuh puluh) orang telah berhadapan dengan pasukan bersenjata lengkap yang berjumlah 30,000 (tiga puluh ribu) orang. Seorang demi seorang dari pengikut al-Husein mati terbunuh. Tak luput keluarganya juga mati dibunuh. Tubuh mereka dipisah-pisahkan dan dipijak-pijak dengan kuda. Hingga ketika tidak ada seorangpun yang akan membelanya beliau mengangkat anaknya yang bernama Ali al-Asghar, seorang bayi yang masih menyusu sambil menanyakan apa dosa bayi itu hingga harus dibiarkan kehausan. Belum lagi terjawab pertanyaannya sebuah panah telah menancap di dada bayi tersebut dan ketika itu pula bayi yang masih kecil itu harus mengakhiri riwayatnya dalam dakapan ayahnya, Al-Husein r.a.
.
Kini tinggallah Al-Husein seorang diri, membela misi suci seorang nabi, demi perintah Allah apapun boleh terjadi, asal agama Allah boleh tegak berdiri, badan pun boleh mati. Perjuangan Al-Husein telah mencapai puncaknya, tubuhnya yang suci telah dilumuri darah, rasa haus pun telah mencekiknya. Tubuh yang pernah dikucup dan digendong Rasulullah SAW kini telah rebah di atas padang Karbala. Lalu datanglah Syimr, menaiki dada al-Husein lalu memisahkah kepala beliau serta melepas anggota tubuhnya satu demi satu.
.
Setelah kepergian Saidina Husein ke rahmatullah, pasukan musuh merampas barang-barang milik beliau dan pengikutnya yang telah tiada. Kebiadaban mereka tidak cukup sampai di sini, mereka lalu menyerang khemah wanita dan membakarnya serta mempermalukan wanita keluarga Rasulullah SAW. Rombongan yang hanya terdiri dan kaum wanita itu, kemudian dijadikan sebagai tawanan perang yang dipertontonkan dan satu kota ke kota lain.
.
Rasulullah SAW yang mendirikan negara Islam dan membebaskan mereka dari kebodohan. Namun keluarga Umayyah yang tidak tahu membalas budi telah memperlakukan keluarga Rasulullah sedemikian rupa. Beginikah cara umatmu membalas kebaikanmu wahai Rasulullah? Benarlah sabda Rasulullah SAW yang berbunyi: "Wahai Asma! Dia (al-Husein) kelak akan dibunuh oleh sekelompok pembangkang sesudahku, yang syafaatku tidak akan sampai kepada mereka."
.
Pembicaraan tentang Saidina Husein adalah pembicaraan yang dipenuhi dengan emosi dan pengorbanan. Semoga Allah SWT melaknat mereka yang terlibat dalam pembunuhan Saidina Husein dan keluarganya di dunia dan akhirat.
.
Dan semoga Allah SWT memasukkan Saidina Husein serta pengikut-pengikutnya yang setia ke dalam golongan orang-orang yang soleh yang diredhaiNya. Amein....

Wallahua'lam.
.

1 ulasan:

elfizonanwar berkata...

APAKAH ADA KETURUNAN AHLUL BAIT?

Dlm Al Quran yang menyebut 'ahlulbait', rasanya ada 3 (tiga) ayat dan 3 surat.

1. QS. 11:73: Para Malaikat itu berkata: "Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait. Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah".

Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna 'ahlulbait' adalah terdiri dari isteri dari Nabi Ibrahim.

2. QS. 28:12: Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusukan(nya) sebelum itu; maka berkatalah Saudara Musa: 'Maukahkamu aku tunjukkan kepadamu 'ahlulbait' yang akan memeliharanya untukmu, dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?

Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna 'ahlulbait' adalah meliputi Ibu kandung Nabi Musa As. atau ya Saudara kandung Nabi Musa As.

3. QS. 33:33: "...Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu 'ahlulbait' dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya".

Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya QS. 33: 28, 30 dan 32, maka makna para ahlulbait adalah para isteri Nabi Muhammad SAW.

Sedangkan ditinjau dari sesudah ayat 33 yakni QS. 33:34, 37 dan 40 maka penggambaran ahlulbaitnya mencakup keluarga besar Nabi Muhammad SAW. para isteri dan anak-anak beliau.

Jika kita kaitkan dengan makna ketiga ayat di atas dan bukan hanya QS. 33:33, maka lingkup ahlul bait tersebut sifatnya menjadi universal terdiri dari:

1. Kedua orang tua Saidina Muhammad SAW, sayangnya kedua orang tua beliau ini disaat Saidina Muhammad SAW diangkat sbg 'nabi' dan rasul sudah meninggal terlebih dahulu.

2. Saudara kandung Saidina Muhammad SAW, tapi sayangnya saudara kandung beliau ini, tak ada karena beliau 'anak tunggal' dari Bapak Abdullah dengan Ibu Aminah.

3. Isteri-isteri beliau.

4. Anak-anak beliau baik perempuan maupun laki-laki. Khusus anak lelaki beliau yang berhak menurunkan 'nasab'-nya, sayangnya tak ada yang hidup sampai anaknya dewasa, sehingga anak lelakinya tak meninggalkan keturunan.

Bagaimana tentang pewaris tahta 'ahlul bait' dari Bunda Fatimah?. Ya jika merujuk pada QS. 33:4-5, jelas bahwa Islam tidaklah mengambil garis nasab dari perempuan kecuali bagi Nabi Isa Al Masih yakni bin Maryam.

Lalu, apakah anak-anak Bunda Fatimah dengan Saidina Ali boleh kita anggap bernasabkan kepada nasabnya Bunda Fatimah?. ya jika merujuk pada Al Quran maka anak Bunda Fatimah dengan Saidina Ali tidaklah bisa mewariskan nasab Saidina Muhammad SAW.

Kalaupun kita paksakan, bahwa anak Bunda Fatimah juga ahlul bait, karena kita mau mengambil garis dari perempuannya (Bunda Fatimah), maka untuk selanjutnya yang seharusnya pemegang waris tahta ahlul bait diambil dari anak perempuannya seperti Fatimah dan juga Zainab, bukan Hasan dan Husein sbg penerima warisnya.

Dengan demikian sistim nasab yang diterapkan itu tidan sistim nasab berzigzag, setelah nasab perempuan lalu lari atau kembali lagi ke nasab laki-laki, ya seharusnya diambil dari nasab perempuan seterusnya.

Bagaimana Saidina Ali bin Abi Thalib, anak paman Saidina Muhammad SAW, ya jika merujuk pada ayat-ayat ahlul bait pastilah beliau bukan termasuk kelompok ahlul bait. Jadi, anak Saidina Ali bin Abi Thalib baik anak lelakinya mapun perempuan, otomatis tidaklah dapat mewarisi tahta 'ahlul bait'.

Kesimpulan dari tulisan di atas, maka pewaris tahta 'ahlul bait' yang terakhir hanya tinggal bunda Fatimah. Berarti anaknya Saidina Hasan dan Husein bukanlah pewaris tahta AHLUL BAIT.