Mutiara Kata:

"Dan tuntutlah dengan harta kekayaan yang telah dikurniakan Allah kepadamu akan pahala dan kebahagiaan hari akhirat dan janganlah engkau melupakan bahagianmu dari dunia dan berbuat baiklah sebagaimana Allah berbuat baik kepadamu dan janganlah engkau melakukan kerosakan di muka bumi sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang berbuat kerosakan." (QS Al-Qasas: 77)


10 Ogos 2009

FATWA MUFTI KERAJAAN ARAB SAUDI TENTANG AHLUL BAIT RASULULLAH S.A.W.


Berikut adalah fatwa dari seorang ulama besar dan Mufti rasmi kerajaan Arab Saudi, iaitu Allamah Almufti Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, yang dimuat dalam majalah "ALMADINAH", halaman 9, nombor 5692, tanggal 7 Muharram 1402 H/24 Oktober 1982 Masihi sebagai berikut:
.
Seorang saudara dari Iraq mengajukan pertanyaan, bahawa sementara orang di negeri itu terkenal sebagai golongan "Sayyid" atau sebagai anak cucu keturunan Rasulullah SAW. Akan tetapi menurut keyakinan saya, demikian kata Saudara tersebut, mereka memperlakukan orang lain dengan perlakuan yang tidak semestinya mereka lakukan. Saya sendiri tidak tahu, apakah keyakinan saya itu benar ataukah salah. Yang saya anggap penting iaitu bahawa mereka itu memungut wang dari orang lain sebagai imbalan atas tulisan dan doa-doa yang mereka berikan untuk orang sakit…dan lain sebagainya. Mereka juga menerima sedekah baik berupa ternakan sembelihan mahupun wang dan lain-lain. Dengan perbuatan seperti itu mereka membangkitkan keraguan orang banyak…dan seterusnya.
.
Jawapan atas pertanyaan tersebut ialah:
"Orang-orang seperti mereka itu terdapat di berbagai tempat dan negeri. Mereka terkenal juga dengan gelaran "Syarif". Sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang yang mengetahui, mereka itu berasal dari keturunan ahlulbait Rasulullah SAW. Di antara mereka itu ada yang salasilahnya berasal dari al-Hassan r.a. dan ada pula yang berasal dari al-Husein r.a.; ada yang dikenali dengan gelaran "sayyid" dan ada juga yang dikenali dengan gelaran "syarif". Itu merupakan kenyataan yang diketahui umum di Yaman dan di negeri-negeri lain."
.
"Mereka itu sesungguhnya wajib bertaqwa kepada Allah dan harus menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan Allah bagi mereka. Semestinya mereka itu harus menjadi orang-orang yang paling menjauhi segala macam keburukan. Kemuliaan salasilah mereka wajib dihormati dan tidak boleh disalahgunakan oleh orang-orang yang bersangkutan. Jika mereka diberi sesuatu dari Baitul-Mal itu memang telah menjadi hak yang dikurniakan Allah SWT kepada mereka. Pemberian halal lainnya yang bukan zakat, tidak ada salahnya kalau mereka itu mahu menerimanya."

"Akan tetapi kalau salasilah yang mulia itu disalahgunakan, lalu ia beranggapan bahawa orang yang mempunyai salasilah itu dapat mewajibkan orang lain supaya memberi ini dan itu, sungguh itu merupakan perbuatan yang tidak patut."

"Keturunan Rasulullah SAW adalah keturunan yang termulia dan Bani Hasyim adalah yang paling afdhal di kalangan orang-orang Arab. Kerananya tidak patut kalau mereka melakukan sesuatu yang mencemarkan kemuliaan martabat mereka sendiri, baik berupa perbuatan, ucapan ataupun perilaku yang rendah."
.
"Adapun soal menghormati mereka, mengakui keutamaan mereka dan memberikan kepada mereka apa yang telah menjadi hak mereka, atau memberi maaf atas kesalahan mereka terhadap orang lain dan tidak mempersoalkan kekeliruan mereka yang tidak menyentuh soal agama, semuanya itu adalah kebajikan."

"Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW berulang-ulang menyebut-nyebut: "Kalian ku ingatkan kepada Allah akan ahlulbaitku…kalian ku ingatkan kepada Allah akan ahlulbaitku". Jadi, berbuat baik terhadap mereka, memaafkan kekeliruan mereka yang bersifat peribadi, menghargai mereka sesuai dengan darjatnya, dan membantu mereka pada saat-saat memerlukan; semuanya itu merupakan perbuatan baik dan kebajikan kepada mereka…"
.

3 ulasan:

ambo berkata...

alhamdulillah atas ulasan ini.terima kasih kerana berkongsi ilmu.
(ahlubait anok branok dunio akhirat)QS 33;33
p/s ;-ambo cucu cicit tok p.chondong

elfizonanwar berkata...

APAKAH ADA KETURUNAN AHLUL BAIT?

Dlm Al Quran yang menyebut 'ahlulbait', rasanya ada 3 (tiga) ayat dan 3 surat.

1. QS. 11:73: Para Malaikat itu berkata: "Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait. Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah".

Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna 'ahlulbait' adalah terdiri dari isteri dari Nabi Ibrahim.

2. QS. 28:12: Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusukan(nya) sebelum itu; maka berkatalah Saudara Musa: 'Maukahkamu aku tunjukkan kepadamu 'ahlulbait' yang akan memeliharanya untukmu, dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?

Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna 'ahlulbait' adalah meliputi Ibu kandung Nabi Musa As. atau ya Saudara kandung Nabi Musa As.

3. QS. 33:33: "...Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu 'ahlulbait' dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya".

Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya QS. 33: 28, 30 dan 32, maka makna para ahlulbait adalah para isteri Nabi Muhammad SAW.

Sedangkan ditinjau dari sesudah ayat 33 yakni QS. 33:34, 37 dan 40 maka penggambaran ahlulbaitnya mencakup keluarga besar Nabi Muhammad SAW. para isteri dan anak-anak beliau.

Jika kita kaitkan dengan makna ketiga ayat di atas dan bukan hanya QS. 33:33, maka lingkup ahlul bait tersebut sifatnya menjadi universal terdiri dari:

1. Kedua orang tua Saidina Muhammad SAW, sayangnya kedua orang tua beliau ini disaat Saidina Muhammad SAW diangkat sbg 'nabi' dan rasul sudah meninggal terlebih dahulu.

2. Saudara kandung Saidina Muhammad SAW, tapi sayangnya saudara kandung beliau ini, tak ada karena beliau 'anak tunggal' dari Bapak Abdullah dengan Ibu Aminah.

3. Isteri-isteri beliau.

4. Anak-anak beliau baik perempuan maupun laki-laki. Khusus anak lelaki beliau yang berhak menurunkan 'nasab'-nya, sayangnya tak ada yang hidup sampai anaknya dewasa, sehingga anak lelakinya tak meninggalkan keturunan.

Bagaimana tentang pewaris tahta 'ahlul bait' dari Bunda Fatimah?. Ya jika merujuk pada QS. 33:4-5, jelas bahwa Islam tidaklah mengambil garis nasab dari perempuan kecuali bagi Nabi Isa Al Masih yakni bin Maryam.

Lalu, apakah anak-anak Bunda Fatimah dengan Saidina Ali boleh kita anggap bernasabkan kepada nasabnya Bunda Fatimah?. ya jika merujuk pada Al Quran maka anak Bunda Fatimah dengan Saidina Ali tidaklah bisa mewariskan nasab Saidina Muhammad SAW.

Kalaupun kita paksakan, bahwa anak Bunda Fatimah juga ahlul bait, karena kita mau mengambil garis dari perempuannya (Bunda Fatimah), maka untuk selanjutnya yang seharusnya pemegang waris tahta ahlul bait diambil dari anak perempuannya seperti Fatimah dan juga Zainab, bukan Hasan dan Husein sbg penerima warisnya.

Dengan demikian sistim nasab yang diterapkan itu tidan sistim nasab berzigzag, setelah nasab perempuan lalu lari atau kembali lagi ke nasab laki-laki, ya seharusnya diambil dari nasab perempuan seterusnya.

Bagaimana Saidina Ali bin Abi Thalib, anak paman Saidina Muhammad SAW, ya jika merujuk pada ayat-ayat ahlul bait pastilah beliau bukan termasuk kelompok ahlul bait. Jadi, anak Saidina Ali bin Abi Thalib baik anak lelakinya mapun perempuan, otomatis tidaklah dapat mewarisi tahta 'ahlul bait'.

Kesimpulan dari tulisan di atas, maka pewaris tahta 'ahlul bait' yang terakhir hanya tinggal bunda Fatimah. Berarti anaknya Saidina Hasan dan Husein bukanlah pewaris tahta AHLUL BAIT.

Adat berkata...

salam elfizonanwar.
Jadi anda mengertikan bahwa keturunan Nabi sudah tidak wujud lagi.?

Kalau memang ini yg anda klaim kan, jadi bohonglah hadis yg mengatakan bahwa Imam Mahdi yang bakal lahir nanti adalah dari keturunan Rasulullah saw. Apakah begitu? Tolong segera diberikan jawapannya. Hujah anda sangat meragukan saya. Apakah anda memang seorang yg belajar tinggi.