Mutiara Kata:

"Dan tuntutlah dengan harta kekayaan yang telah dikurniakan Allah kepadamu akan pahala dan kebahagiaan hari akhirat dan janganlah engkau melupakan bahagianmu dari dunia dan berbuat baiklah sebagaimana Allah berbuat baik kepadamu dan janganlah engkau melakukan kerosakan di muka bumi sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang berbuat kerosakan." (QS Al-Qasas: 77)


24 Februari 2009

DOA KETIKA DITIMPA MUSIBAH


Musibah yang dialami oleh seorang mukmin, baik yang besar atau kecil, merupakan kifarat (balasan) Allah SWT atas dosa-dosa yang pernah dilakukannya. Musibah tersebut adalah sebagai penghapus dosa-dosa selama ia tidak melakukan perbuatan syirik dan dosa besar lainnya sehingga ia akan menghadap Allah SWT dalam keadaan bersih dari dosa yang pada akhirnya akan dimasukkan syurga oleh Allah SWT. Apabila ia tidak melakukan kezaliman berupa kesyirikan, kezaliman terhadap sesamanya, atau kezaliman terhadap dirinya, maka ia akan mendapatkan rasa aman pada hari kiamat dan petunjuk di dunia dan akhirat. (Fathul Majid, tanpa tahqiq hal. 38).

Lalu bagaimana agar musibah yang menimpa seorang mukmin dapat menjadi penghapus dosa bahkan menjadi pahala dan menggantikan musibah itu dengan sesuatu yang lebih baik? Pertanyaan ini telah dijawab oleh Allah SWT dalam al-Quran: "Orang-orang yang apabila tertimpa musibah mereka mengatakan:"inna lillahi wa inna ilaihi raji’un (Sesungguhnya kami ini milik Allah dan kami akan kembali kepada-Nya). Mereka itu mendapatkan salawat (pujian) dan rahmah. Merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS Al-Baqarah 156-157)

Nabi SAW juga memberikan petunjuk kepada kita apa yang harus diucapkan ketika kita tertimpa musibah, besar atau kecil, dengan mengucapkan kalimat istirja’. Dari Abu Hurairah r.a. bahawa Rasulullah SAW bersabda: "Hendaklah salah seorang kamu mengucapkan istirja’ dalam segala hal (musibah) meskipun yang terjadi pada tali sandalnya. Sebab yang demikian tergolong musibah." (Syaikh Al Albani mengatakan bahawa hadis ini hasan setelah melihat adanya penguat hadis ini berasal dari Ibnu Sunni dengan sanad lemah (Al-Kalimuth Thayyib, Ibnu Taimiyah, tahqiq Al-Albani, hal.81)

Ummu Salamah r.a. mengatakan bahawa ia pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: "Seseorang yang tertimpa musibah lalu ia berkata: 'inna lillahi wa inna ilaihi raji’un' dan berdoa: Allahuma jurnii fi musibatii wakhluf liya khairan minhaa (Ya Allah berilah aku pahala dalam musibah ini dan gantikanlah untukku dengan yang lebih baik daripadanya). Niscaya Allah akan memberinya pahala kerana musibah itu dan menggantikan untuknya dengan yang lebih baik." (HR. Muslim 3/37-38).

Tatkala Abu Salamah (suaminya) meninggal, dia mengucapkan apa yang dikatakan Nabi SAW. Tak lama kemudian ia menjadi isteri Rasulullah SAW, suami baru yang lebih baik dari Abu Salamah. Siapa mangandaikan ia akan mendapat suami seperti Rasulullah SAW sementara ia sendiri pernah mengatakan: "Lelaki mana yang lebih baik daripada suamiku"? (Mukhtashar Syarah Shahih Muslim, hadith no. 918)

Oleh yang demikian, maka patutlah seorang mukmin tetap dalam keadaan sabar, istiqamah dan mengharap pahala serta ampunan Allah SWT dalam menghadapi segala macam musibah dan tidak sebaliknya dengan menampar-nampar pipi atau menyobek-nyobek saku baju, menjerit atau tindakan lain yang tidak selayaknya diperbuat oleh seorang mukmin.
.

Tiada ulasan: